Struktur Organisasi Beserta Tugas-tugas Perlevel Pada Bank DKI

Desember 17, 2009

A. Sekilas Tentang Bank DKI.

Bank DKI didirikan berdasarkan Akte No. 30 tanggal 11 April 1961 yang dibuat di hadapan Notaris Eliza Pondaan, SH di Jakarta, dengan nama PT Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta Raya yang disingkat BPD Jaya.

PT Bank DKI semula merupakan Bank Milik Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta berbentuk Perusahaan Daerah didirikan berdasarkan Peraturan Daerah No. 13 tahun 1962 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dan terakhir dengan Peraturan Daerah No. 1 tahun 1993 tanggal 15 Januari 1993

Visi Bank DKI adalah Memiliki kinerja terbaik diantara bank sekelasnya (Menurut kriteria Permodalan API), Memiliki kinerja dan reputasi yang baik dan menjadi pilihan utama nasabah dan stakeholder lainnya, sedangkan misi Bank DKI adalah Bank berkinerja unggul, mitra strategis dunia usaha, masyarakat dan andalan Pemprov. DKI yang memberi nilai tambah bagi stakeholder melalui pelayan terpadu dan profesional

B. Struktur Organisasi pada Bank DKI.

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai sedikit gambaran struktur organisasi pada bank DKI dan beberapa job desk dan tanggung jawabnya, adapun struktur organisasi pada Bank DKI adalah sebagai berikut :

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:259681943; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1172014622 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:691688087; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1390015076 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:1274635912; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:674771364 67698703 67698689 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l3 {mso-list-id:1873151188; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1023382194 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l4 {mso-list-id:1915970541; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-261825882 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

· Mengevaluasi dan mengesahkan laporan tahunan serta keputusan untuk kemajuan perusahaan.

2. Dewan Komisaris

· Mengawasi Direksi perusahaan dalam mencapai kinerja dalam business plan dan memberikan nasehat kepada direksi mengenai penyimpangan pengelolaan usaha yang tidak sesuai dengan arah yang ingin di tuju oleh perusahaan.

· Dewan komisaris wajib memastikan terselenggaranya pelaksanaan good corporate govermance dalam setiap kegiatan usaha Bank pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi

· Dewan komisaris wajib memastikan bahwa direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari satuan kerja audit intern Bank, auditor external, hasil pengawasan Bank Indonesia dan/atau hasil pengawasan otoritas lain.

3. Direksi.

· Memimpin dan mengendalikan semua kegiatan di Bank DKI

· Merencanakan dan menyusun program kerja.

· Membina pegwai.

4. Direktur Kepatuhan.

· Membuatr kajian terhadap kelayakan dan prosedur Bank DKI.

· Pengelolaan siklus proses perencanaan strategi Bank DKI.

· Pemberian dukungan kepada direksi dalam memantau, mengevaluasi dan mengendalikan kinerja manajemen, operasional bisnis dan resiko-resiko usaha lainnya yang dihadap bank DKI.

5. Direktur Pemasaran.

· Berkoordinasi dan mengendalikan rencana dan aktivitas pemasaran kredit menengah dan mengelola analisa resiko kredit, analisa laporan keuangan dan analisa kebutuhan kredit.

· Koordinasi pemasaran dan pengembangan bisnis bank DKI

· Bertanggung jawab atas seluruh aktivitas penyelamatan dan penyelesaian kredit bermasalah.

6. Direktur Operasional

· Bertanggung jawab dalam mengelola kegiatan RTGS, kliring dan kiriman uang serta mellakukan pembukuan transaksi kantor pusat.

· Bertanggung jawab dalam melayani keluhan atas transaksi untuk diteruskan kepada pihak terkait.

7. Direktur Keuangan

· Bertanggung jawab atas terselenggaranya pengelolaan portfolio secara sehat dan mengelola bisnis tresuri dan jasa-jasa luar negrisebagai salah satu bisnis yang menguntungkanbagi bank DKI.

· Mengelola kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas penyusunan, pelapora dan evaluasi aggaran induk, penyelenggaraan kegiatan pembukuan dan akutansi di bank DKI.

8. Pimpinan Cabang.

· Menetrapkan rencana kerja dan anggaran, sasaran usaha dan tujuan yang akan dicapai.

· Mengarahkan, mengendalikan dan mengawasi seksi-seksi kerja menurut bidang dan tugasnya.

· Memasarkan produk dan jasa Bank DKI kepada nasabah.

9. Wakil Pemimpin bidang operasional.

· Mengelola sistem otomasi

· Mengelola administrasi atau portepel kredit.

· Mengelola administrasi dalam negri dan kliring cabang.

· Mengelola data informasi dan keuangan cabang.

· Mengelola administrasi umum, logistik dan kepegawaian cabang.

· Megelola daftar pos terbuka.

· Mengelola administrasi ATM Bersama.

10. Pemimpin cabang pembantu.

· Memantau perkembangan usaha cabang pembantu.

· Menyelesaikan permasalahan yang di hadapi cabang pembantu.

· Menyelesaikan fungsi kontrol intern terhadap kegiatan usaha cabang pembantu.

A. Penerapan Sistem Pendukung Keputusan pada Bank DKI.

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai penerapan keputusan-keputusan yang di ambil oleh beberapa bagian, yaitu bagian Pemegang Saham, Management dan Pemerintah untuk penjelasannya adalah sebagai berikut :

Ø Pemegang Saham

Salah sata keputusan yang biasa di lakukan oleh sorang pemegang saham adalah keputusan untuk tetap meninvestasikan uangnya atau keputusan untuk menarik semua investasinya di sebuah perusahaan, dimana dalam melakukan keputusan-keputusan tersebut di dasari atas beberapa hal antara lain adalah:

a. Laporan Hutang Perusahaan (Ratio Hutang).

b. Laporan Keuntungan atau Aset perusahaan (Ratio Keuntungan).

c. Liquiditas Perusahaan.

d. Stabilitas Ekonomi, dan lain-lain.

Ø Manajement Perusahaan.

Keputusan-keputusan yang bisa di lakukan oleh pihak manajement perusahaan salah satunya adalah penyusunan program kerja, penetapan anggaran dan pengembangan bisnis.

Ø Pihak Pemerintah.

Keputusan yang bisa diambil oleh pihak pemerintah adalah dengan melakukan pemilihan keputusan untuk kebijakan suku bunga bank dan lain-lain.

A. Struktur Organisasi pada Bank DKI.

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai sedikit gambaran struktur organisasi pada bank DKI dan beberapa job desk dan tanggung jawabnya, adapun struktur organisasi pada Bank DKI adalah sebagai berikut :


Analisis MURRE

Juni 15, 2009

Dalam sebuah SDLC (System Development Life Cycle) terdapat 1 dari 6 fase yang disebut dengan ”Evaluasi sistem dan seleksi”, fase tersebut merupakan proses dimana nilai sistem, biaya dan keuntungan (cost & benefit) dibandingkan dengan salah satu sama lain dan dipilih untuk perancangan yang lebih rinci Fase ini menjadi proses pengoptimasian yang melihat apakah suatu sistem dapat dikerjakan dan juga memenuhi permintaan dari user. Keputusan untuk mengubah ke sebuah sistem yang baru memang sangat sulit, dan untuk mengevaluasi sistem informasi dan keputusan pemilihan bersumber kepada beberapa bagian yaitu Nilai sistem (TELOS, PDM, dan MURRE), dan Analisa biaya keuntungan. Faktor pada perancangan MURRE terdiri dari beberapa bagian yaitu (Maintainability, Usability, Reusability, Reliabelity, Extendability), ”Semakin tinggi nilai faktor MURRE maka semakin tinggi pula kualitas perancangan sebuah sistem” sehingga faktor perancangan MURRE bisa dijadikan sebagai salah satu faktor penilaian untuk mempresentasikan dari sebuah kualitas perancangan sistem.

1.1 Menilai Maintainability (Maintainability)

Dalam me-maintain (memelihara) sistem, perancagan sistem harus memperhatikan beberapa hal berikut ini yaitu : Membuat kamus data standard, menggunakan bahasa pemprograman standar, menginstall arsitektur komputer standar, menggunakan perancangan secara modul, menyiapkan dokumentasi yang komprehensif, jelas dan terbaru.

1.2 Menilai Kegunaan (Usability)

Faktor nilai kegunaan lebih nersifat kepada manusia. Faktor perancangan ini lebih berhubungan dengan pencapaian kesuksesan atau kegagalan suatu system yang baru. Adalah penting bagi setiap uset mendapatkan systemnya dapat digunakan, sebaliknya jika sistemnya fancy, system terlalu njelimet (sophisticated) menggunakan teknologi terbaru maka akan gagal. Produk dari system yang user inginkan adalah informasi, yang memiliki 2 dimensi yaitu substance dan form. Substance lebih melihat kepada perancangan output yang relevan, akurat dan sesuai dnegan waktu. Form lebih melihat kepada kognitif user. Output dalam form harus atrakfit dan dimengerti. Misalnya bentuk pelaporan dalam tabel maupun grafik.

1.3 Menilai Kegunaan Kembali (Reuseability)

Menilai kegunaan kembali, merupakan kemampuan dari menggunakan software atau komponen system yang sama untuk aplikasi yang lain dimana masih memiliki kemampuan yang tinggi. Ini merupakan tujuan yang diinginkan karena dapat mengurangi biaya pengembangan system di masa yang akan datang. Misalnya 50% dari modul software sistem yang dikembangkan digunakan untuk aplikasi baru berikutnya sehingga 50% biaya pengembangan software dan waktu yang digunakan untuk aplikasi baru dapat dihilangkan.

1.4 Menilai Kehandalan (Reliabelity)

Adalah sebuah nilai yang diukur berdasarkan dari seberapa bergantungnya sebuah sistem dapat menjalankan fungsinya. Mean Time Between Failures (MTBF) merupakan pengukuran kuantitatif dari kehandalan dan diekspresikan dala bulan atau tahun. MTBF merupakan merupakan waktu rata-rata system diharapkan beroperasi sebelum gagal Mean Time To Repair (MTTR) merupakan pengukuran kuantitatif dari kemampuan pemeliharaan (maintain) dan di ekspresikan dalam detik dan menit. “MTBF ditingkatkan dan MTTR diturunkan”.

1.5 Menilai Perluasan (Extendability)

Perluasan (extendability) memberikan sistem menjadi tinggi dan fleksibelitas, sehingga dapat mengubah atau beradapatasi dengan mudah terhadap perubahan-peruabahan permintaan user. System yang di implementasikan mungkin bekerja dengan sangat baik untuk waktu yang pendek, tetapi jika menjadi dead-end, system tidak fleksibel tanpa kemampuan beradaptasi dan berkembang, akan sulit bagi user untuk mengubah atau menambah. Extendability berhubungan dengan maintainability. Factor perancagan ini lebih berhubungan dengan menumbuhkan potensi sitem dan meningkatkan kemampuan beradaptasi ke lingkungan baru, dimana maintainability lebih mejadi agar system beroperasi sesuai perancangan awal.


RTI Release V6.2

April 22, 2009

Meningkatnya transaksi pada Bursa Effek pada beberapa hari ini khususnya dalam kurun 5 hari yang lalu hingga mencapai berkali lipat membuat aplikasi RTI Engine sedikit mengalami masalah pada system penerimaan buffering transaction. Banyaknya transaction yang terjadi membuat aplikasi tersebut terkadang sering berhenti (atau terjadinya laging), namun permasalah tersbut segera di antisipasi dengan di release nya aplikasi RTI Engine yang baru dari pihak developer, salah satu feature yang baru pada RTI Engine Ver 6.2 adalah “Aplikasi dengan kemampuan penyimpanan buffering yang lebih baik” kutipan informasi dari salah satu Support product tersebut yang saya dapatkan. Diharapkan dengan system penyimpanan buffering dan support yang lebih baik pada V6.2 akan memberikan kepuasan layanan kepada para Investor dan para pengguna aplikasi RTI.


Hello world!

Maret 9, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!